Mahasiswa Pendidikan Matematika USN Kolaka Perkuat Kompetensi Mengajar dan Riset melalui SIM-B

KOLAKA – Tiga mahasiswa semester IV Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka mengikuti kegiatan Studi Independen Mandiri Berdampak (SIM-B) di SMP Negeri 1 Wolo. Kegiatan lapangan dilaksanakan pada 15 Juli hingga 15 Agustus 2026 sebagai sarana bagi mahasiswa untuk mempelajari secara langsung penyelenggaraan pendidikan dan berbagai dinamika pembelajaran di sekolah.
Selama pelaksanaan SIM-B, mahasiswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran, berinteraksi dengan guru dan siswa, mengidentifikasi permasalahan yang muncul di kelas, serta melaksanakan penelitian berskala kecil atau mini riset. Mahasiswa juga berpartisipasi dalam penataan dan pemeliharaan kebersihan lingkungan sekolah sebagai bagian dari persiapan SMP Negeri 1 Wolo mengikuti lomba kebersihan tingkat kabupaten.
Keterlibatan dalam berbagai kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan situasi nyata di sekolah. Pengalaman ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi pedagogis, kemampuan berkomunikasi, keterampilan bekerja sama, serta kapasitas penelitian mahasiswa sebagai calon pendidik matematika.
Belajar Menghadapi Keragaman Siswa
Perwakilan mahasiswa peserta SIM-B, Pildasari, mengatakan bahwa pihak sekolah memberikan sambutan yang baik sejak mahasiswa pertama kali datang ke SMP Negeri 1 Wolo.
“Kesan pertama kami saat tiba di SMP Negeri 1 Wolo adalah merasa senang dan antusias. Lingkungan sekolahnya nyaman, guru dan siswanya ramah, serta kami diterima dengan baik ketika mulai melaksanakan kegiatan,” ujar Pildasari.
Menurutnya, kesempatan mengajar dan berinteraksi secara langsung dengan siswa menjadi salah satu pengalaman penting selama mengikuti program. Mahasiswa dapat melihat bahwa setiap siswa memiliki karakteristik, tingkat kemampuan, dan cara belajar yang berbeda.
“Kami menyadari bahwa menghadapi siswa tidak dapat dilakukan dengan satu pendekatan yang sama. Setiap siswa memiliki karakter dan kebutuhan belajar yang berbeda. Pengalaman ini mengajarkan kami untuk lebih sabar, menyesuaikan cara berkomunikasi, dan memahami kebutuhan siswa,” jelasnya.
Keragaman siswa tersebut menjadi bagian penting dalam pembelajaran calon guru. Selain menguasai materi matematika, mahasiswa perlu belajar memilih cara penyampaian, memberikan pendampingan, dan membangun interaksi yang sesuai dengan kondisi siswa.
Pildasari menambahkan bahwa pengalaman di sekolah turut meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengajar, berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami lingkungan pendidikan secara lebih nyata.
“Pengalaman selama berada di SMP Negeri 1 Wolo sangat berkesan dan memberikan banyak pembelajaran bagi kami. Kami tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga memperoleh kesempatan mengajar, berinteraksi dengan guru dan siswa, serta terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah,” tuturnya.

Mini Riset untuk Memahami Permasalahan Pembelajaran Matematika
Salah satu kegiatan utama mahasiswa dalam program SIM-B adalah melaksanakan mini riset mengenai proses berpikir siswa dalam pembelajaran matematika. Penelitian tersebut mengkaji berpikir pseudo matematis siswa dalam kegiatan problem posing dengan mempertimbangkan tingkat self-regulated learning atau kemandirian belajarnya.
Problem posing merupakan kemampuan siswa menyusun atau mengembangkan masalah matematika berdasarkan informasi dan situasi tertentu. Kemampuan tersebut penting karena mendorong siswa tidak sekadar menyelesaikan soal, tetapi juga memahami hubungan antarkonsep dan mengembangkan pertanyaan matematika secara mandiri.
Dalam praktiknya, siswa terkadang dapat menghasilkan jawaban atau soal yang terlihat benar, tetapi belum didukung pemahaman konsep yang memadai. Kondisi ini dikenal sebagai berpikir pseudo matematis. Sebaliknya, terdapat pula siswa yang telah memahami konsep, tetapi memberikan jawaban kurang tepat akibat kesalahan teknis, kurang teliti, atau keliru dalam menyajikan gagasan matematis.
Melalui tugas problem posing, angket self-regulated learning, observasi, dan wawancara, mahasiswa berupaya memperoleh gambaran mengenai cara siswa memahami serta mengembangkan masalah matematika. Hasil mini riset tersebut diharapkan dapat menjadi informasi awal bagi guru dalam mengenali kesulitan siswa dan merancang pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
Mahasiswa Belajar dari Persoalan Nyata di Sekolah
Dosen Pendamping Lapangan, Achmad Salido, menjelaskan bahwa SIM-B dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual kepada mahasiswa. Program ini menempatkan sekolah sebagai ruang belajar langsung bagi mahasiswa untuk memahami praktik pendidikan secara lebih utuh.
“Melalui kegiatan SIM-B, mahasiswa tidak hanya datang untuk mengamati proses pembelajaran. Mereka dilatih melihat secara langsung bagaimana program pendidikan dijalankan, berinteraksi dengan guru dan siswa, mengidentifikasi persoalan yang muncul dalam pembelajaran, serta melakukan mini riset berdasarkan kondisi nyata di kelas,” jelas Achmad Salido.
Menurutnya, pengalaman lapangan sangat penting bagi mahasiswa Pendidikan Matematika karena tantangan pembelajaran tidak selalu dapat dipahami hanya melalui kajian teoretis di ruang kuliah.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa pembelajaran matematika berkaitan dengan banyak aspek, mulai dari penguasaan konsep, karakteristik siswa, kemandirian belajar, cara berkomunikasi, hingga kemampuan guru menentukan pendekatan yang tepat. Pengalaman di sekolah membantu mereka melihat hubungan antaraspek tersebut secara langsung,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa mini riset menjadi sarana bagi mahasiswa untuk belajar mengkaji persoalan pendidikan secara sistematis. Mahasiswa tidak hanya mengenali masalah, tetapi juga mengumpulkan data, menganalisis temuan, dan menyusun alternatif pemikiran yang dapat memberikan manfaat bagi sekolah.
“Kami berharap mahasiswa mampu mengembangkan sikap reflektif dan berbasis bukti. Ketika menemukan persoalan pembelajaran, mereka perlu belajar memahami penyebabnya melalui data, bukan sekadar membuat dugaan. Kompetensi seperti ini penting bagi calon guru agar mampu terus mengevaluasi dan memperbaiki praktik pembelajarannya,” katanya.
Terlibat dalam Kegiatan Lingkungan Sekolah
Selain kegiatan akademik, mahasiswa SIM-B turut membantu menata dan menjaga kebersihan lingkungan SMP Negeri 1 Wolo. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari persiapan sekolah mengikuti lomba kebersihan tingkat kabupaten.

Partisipasi ini memberikan pengalaman kepada mahasiswa bahwa penyelenggaraan pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Lingkungan sekolah yang bersih, nyaman, dan tertata turut mendukung terciptanya suasana belajar yang kondusif.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut juga melatih kerja sama, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekolah. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari kompetensi calon pendidik yang tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga berkontribusi dalam membangun budaya sekolah yang positif.
Seminar Menjadi Penutup Rangkaian Kegiatan
Rangkaian program SIM-B di SMP Negeri 1 Wolo akan ditutup dengan seminar pada 19 Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa akan memaparkan pengalaman, proses pelaksanaan program, dan hasil mini riset yang telah dilakukan selama berada di sekolah.
Seminar tersebut menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa sekaligus sarana untuk menyampaikan temuan kepada dosen pendamping dan pihak sekolah. Melalui proses ini, pengalaman lapangan tidak hanya didokumentasikan sebagai laporan kegiatan, tetapi juga diolah menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran.
Pildasari berharap pengalaman selama mengikuti SIM-B dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri sebagai calon guru.
“Kami berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat meningkatkan kemampuan mengajar, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan siswa. Semoga kegiatan yang kami lakukan juga memberikan manfaat bagi pihak sekolah dan hubungan baik antara mahasiswa dengan SMP Negeri 1 Wolo dapat terus terjaga,” ungkapnya.
Ia juga berharap SMP Negeri 1 Wolo terus berkembang, mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, dan memperoleh hasil terbaik dalam lomba kebersihan tingkat kabupaten.
Pelaksanaan SIM-B mencerminkan upaya USN Kolaka dalam mendekatkan proses pendidikan tinggi dengan kebutuhan nyata sekolah. Program ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan kompetensi calon guru dan kajian terhadap pembelajaran siswa.
Kolaborasi antara USN Kolaka dan SMP Negeri 1 Wolo turut sejalan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui kemitraan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang autentik, sementara sekolah mendapatkan dukungan kegiatan dan masukan berbasis hasil pengamatan serta penelitian. Kegiatan ini diharapkan menjadi fondasi bagi penguatan kerja sama antara Program Studi Pendidikan Matematika USN Kolaka dan SMP Negeri 1 Wolo dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pendidikan di daerah. (nm-03)