Belajar Bilangan lewat Ular Tangga, Inovasi Mahasiswa SIM-B di SD Negeri 1 Wolulu

WATUBANGGA, KOLAKA – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka menggunakan permainan ular tangga untuk mengajarkan bilangan bulat dan desimal kepada siswa kelas V dan VI SD Negeri 1 Wolulu.
Kegiatan itu merupakan bagian dari Studi Independen Mandiri Berdampak (SIM-B) yang dilaksanakan pada 15 Juni hingga 15 Agustus 2026. Selain mengajar, mahasiswa melakukan observasi, menyusun instrumen penelitian, mengembangkan media, menyebarkan angket minat belajar, mengolah data, dan menyusun laporan akhir.
Permainan ular tangga dipilih setelah mahasiswa mengamati proses pembelajaran dan karakteristik siswa. Media tersebut digunakan untuk membantu menyajikan materi bilangan melalui kegiatan yang lebih interaktif.
Permainan Disusun Berdasarkan Hasil Observasi
Rangkaian SIM-B diawali dengan pembekalan dan observasi lapangan. Mahasiswa mengamati kondisi sekolah, proses pembelajaran, fasilitas yang tersedia, serta kebutuhan siswa dalam belajar matematika.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kemampuan dan cara belajar siswa cukup beragam. Materi bilangan bulat dan desimal juga masih menjadi tantangan bagi sebagian siswa karena memerlukan pemahaman terhadap konsep dan operasi hitung.
Temuan tersebut menjadi dasar penyusunan instrumen penelitian dan pengembangan permainan ular tangga. Pertanyaan serta tugas pada papan permainan disesuaikan dengan materi dan tujuan pembelajaran di kelas V dan VI.
Media itu tidak dimaksudkan untuk menggantikan penjelasan guru. Ular tangga digunakan sebagai sarana latihan agar siswa dapat mengerjakan soal, berdiskusi, dan memeriksa kembali pemahamannya dalam suasana yang lebih santai.
Belajar Sambil Berdiskusi
Dalam pelaksanaannya, siswa bermain secara berkelompok dan bergiliran menjalankan bidak. Ketika berhenti pada kotak tertentu, mereka diminta menjawab pertanyaan atau menyelesaikan tugas matematika sebelum melanjutkan permainan.
Pola tersebut membuat siswa tidak sekadar menunggu giliran. Mereka ikut mendiskusikan jawaban, membantu anggota kelompok, dan memperhatikan pembahasan soal yang muncul selama permainan.

Perwakilan mahasiswa peserta SIM-B, Andi Yuyun Muzizat, mengatakan bahwa antusiasme siswa menjadi salah satu kesan yang paling diingat selama kegiatan.
“Anak-anak terlihat senang ketika ular tangga mulai digunakan. Mereka lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba menjawab soal karena pembelajarannya terasa seperti bermain,” ujar Yuyun.
Menurutnya, penggunaan media tetap membutuhkan pengelolaan kelas yang baik. Mahasiswa harus mengatur giliran, memastikan semua siswa berpartisipasi, dan menjaga agar perhatian mereka tetap tertuju pada materi.
“Kami belajar bahwa media yang menarik saja belum cukup. Kami tetap harus menjelaskan aturan, mengatur waktu, dan membantu siswa yang belum memahami soal,” katanya.
Mengajar Sekaligus Meneliti
Mahasiswa juga menyebarkan angket minat belajar sebelum dan setelah penerapan media. Data tersebut dilengkapi dengan pengamatan terhadap respons dan keterlibatan siswa selama pembelajaran.
Hasil angket dan catatan lapangan kemudian diolah sebagai bahan evaluasi serta penyusunan laporan akhir. Karena tidak disertai data angka dalam publikasi ini, hasil kegiatan tidak digunakan untuk membuat klaim tentang besarnya perubahan minat belajar siswa. Data tersebut menjadi bahan bagi mahasiswa untuk menilai penerapan media dan menyusun rekomendasi perbaikan.
Bagi Yuyun, pengalaman mengajar langsung memberikan gambaran yang lebih nyata tentang pekerjaan seorang guru.
“Selama di kelas, kami memahami bahwa mengajar bukan hanya menyampaikan materi. Kami juga harus membangun komunikasi, mengenali karakter siswa, dan mencari cara agar mereka merasa nyaman untuk belajar,” tuturnya.
Perbedaan kemampuan siswa membuat mahasiswa perlu menyesuaikan penjelasan dan memberikan pendampingan secara bertahap. Pengalaman tersebut turut melatih kepercayaan diri, kesabaran, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama.
“Setiap pertemuan memberi pengalaman yang berbeda. Ada siswa yang cepat memahami materi, tetapi ada juga yang membutuhkan contoh tambahan. Dari situ kami belajar untuk tidak menggunakan satu cara yang sama kepada semua siswa,” kata Yuyun.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada kepala sekolah, guru pamong, dewan guru, dan siswa yang telah mendukung pelaksanaan program.
“Kami diterima dengan baik dan banyak dibantu selama kegiatan. Pengalaman ini akan menjadi bekal penting bagi kami sebagai calon guru,” ujarnya.
DPL Tekankan Pentingnya Evaluasi Media
Dosen Pendamping Lapangan, Aswin, mengatakan bahwa SIM-B memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menjalani proses pengembangan pembelajaran secara utuh, mulai dari menemukan masalah hingga mengevaluasi solusi yang diterapkan.
“Mahasiswa tidak langsung membawa media ke kelas. Mereka melakukan observasi lebih dahulu, mempelajari kebutuhan siswa, menyusun instrumen, lalu mengembangkan permainan yang sesuai dengan materi,” jelas Aswin.
Menurutnya, nilai edukatif permainan ular tangga tidak terletak pada bentuk permainannya saja, tetapi pada aktivitas berpikir yang dirancang di dalamnya.
“Pertanyaan pada setiap kotak harus mendorong siswa menghitung, menjelaskan jawaban, atau mendiskusikan strategi. Jika hanya bermain tanpa tujuan yang jelas, media itu tidak akan banyak membantu pembelajaran,” katanya.
Aswin menambahkan, penerapan media perlu diikuti dengan evaluasi. Respons siswa, keterlibatan dalam kelompok, dan kesulitan yang muncul selama kegiatan dapat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya.
“Melalui SIM-B, mahasiswa belajar bahwa kreativitas harus disertai pertimbangan pedagogis. Mereka perlu mengetahui mengapa suatu media digunakan, bagaimana pelaksanaannya, dan apa yang harus diperbaiki setelah kegiatan selesai,” ujarnya.
Pada akhir program, mahasiswa mengolah hasil kegiatan dan menyusun laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Tahapan tersebut melatih mereka tidak hanya dalam mengajar, tetapi juga dalam merancang media, mengumpulkan data, dan merefleksikan praktik pembelajaran.
Yuyun berharap pengalaman selama dua bulan di SD Negeri 1 Wolulu dapat terus dikembangkan dalam perjalanan mereka sebagai calon pendidik.
“Kami berharap SD Negeri 1 Wolulu semakin maju dan para siswanya semakin percaya diri serta bersemangat belajar. Semoga pengalaman yang kami peroleh di sekolah ini dapat membantu kami menjadi guru yang lebih baik,” tuturnya.
Program tersebut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDG 4: Pendidikan Berkualitas, terutama melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa dan penguatan kompetensi calon guru. Kegiatan ini juga mempererat kerja sama antara USN Kolaka dan SD Negeri 1 Wolulu dalam pengembangan pembelajaran matematika. (nm-03)